Pages

Masyarakat, Arsitektur dan Lingkungan (II) : Bambu Material Masa Depan





Pada saatnya nanti uang kita tidak ada harganya lagi yaitu saat uang kita tidak lagi mampu membeli sesuatu yang sudah tidak ada atau punah.”

Arsitektur sebagai salah satu bentuk refleksi dari kebudayaan dan peradaban masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem lingkungan. Bagaimana tidak, sebuah bangunan yang didirikan berpotensi dapat merusak lingkungan bila dalam tahap pembangunannya tidak memperhatikan dengan baik kondisi dan iklim setempat. Arsitektur yang baik adalah asitektur yang mampu mengadaptasi nilai-nilai sosial, budaya dan iklim setempat ke dalam wujud fisik bangunan. Hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian penting tidak hanya bagi kalangan arsitek saja namun juga tiap individu karena arsitektur sendiri pada hakikatnya diciptakan untuk dinikmati oleh setiap orang.

Beberapa tahun belakangan ini isu yang paling populer dibicarakan di bidang arsitektur adalah mengenai green building. Sebuah konsep perancangan arsitektur yang menitikberatkan pada rancangan yang dapat meminimalisir dampak negatif bangunan pada lingkungan sekitar.Salah satu aspek dalam mewujudkan green building ini adalah dengan pemanfaatan material-material lokal. Karena dengan memakai bahan-bahan lokal maka distribusi bahan untuk sampai ke tempat tujuan akan jauh lebih mudah dan cepat. Dimana hal ini akan berdampak pada pemakaian bahan bakar untuk alat transportasi tersebut. Semakin dekat lokasi bangunan dengan sumber material, maka bahan bakar yang diperlukan juga akan semakin sedikit. Inilah pentingnya memanfaatkan potensi lokal semaksimal mungkin dalam bidang arsitektur.

Selain itu dalam kondisi krisis global yang sedang melanda dunia saat ini membuat biaya untuk membangun gedung terus meningkat tiap tahunnya. Jika dulu untuk membangun sebuah rumah dengan kisaran harga 1 juta rupiah per meter perseginya masih dapat dilakukan, namun untuk saat ini paling tidak untuk membangun sebuah rumah dengan mutu yang baik dibutuhkan biaya paling tidak 2,5 juta – 3 juta per meter persegi. Lonjakan harga yang cukup tajam ini juga menuntut sebuah material bangunan yang tidak hanya bagus dari segi kualitas namun juga relatif terjangkau untuk semua kalangan. Indonesia dengan potensi alam yang sangat melimpah sebenarnya memiliki banyak hasil alam yang mampu menjadi alternatif material untuk dijadikan bahan bangunan.

Sebagai negara beriklim tropis dengan hektaran hutan yang membentang dari ujung barat hingga ke timur, potensi terbesar untuk dijadikan material bangunan tentunya adalah kayu. Namun harga kayu yang sangat mahal dan siklus hidup tanaman untuk mampu menghasilkan kayu dengan kualitas yang bagus sangatlah lama membuatkayu menjadi tidak terjangkau untuk kalangan bawah yang ingin membuat rumah. Tapi ada satu potensi lagi yang masih banyak dilupakan oleh masyarakat. Selain kayu ada bahan lain yang dapat ditemukan dengan mudah di hampir seluruh daerah di Indonesia yaitu bambu. Bambu dapat tumbuh dengan mudah dan harganya pun relatif terjangkau oleh semua kalangan.

Beberapa waktu yang lalu memang ada sebagian kalangan yang memandang sebelah mata kepada bambu sebagai bahan bangunan. Anggapan sebagian orang yang menganggap bahwa bambu adalah bahan bangunan untuk orang miskin menjadi hal yang membuat material ini sulit bersaing dengan material-material lain. Namun seiring dengan usaha dari para peneliti dan praktisi dalam bidang arsitektur untuk memperkenalkan bambu sebagai bahan bangunan yang tak kalah dibandingkan dengan bahan lain membuat popularitas material ini lambat laun mulai menanjak. Dulu bambu hanya dikenal sebagai penghias ataupun pelengkap dalam mempercantik ruangan. Tapi kini bambu pun mulai banyak dilirik sebagai struktur utama dalam mendirikan bangunan. Tak hanya untuk bangunan rumah tinggal, bangunan komersil seperti villa, perkantoran maupun institusi pendidikan pun mulai banyak yang menggunakan bambu.

Sebagai material dari alam yang saat ini mulai populer digunakan, bambu tentu memiliki beberapa keunggulan dari material-material bangunan lainnya. Sebagai salah satu tanaman yang mudah ditemukan di Indonesia, bambu dapat tumbuh dengan mudah tanpa memerlukan perawatan khusus dan alat-alat yang rumit. Dapat dibudidayakan oleh siapa saja dengan investasi yang tidak terlalu besar. Dalam masa pertumbuhan bambu bisa tumbuh hingga 5 cm per jam atau sekitar 120 cm per hari! Bandingkan dengan kayu hutan yang siap ditebang bila sudah berumur 40-50 tahun, bambu berkualitas baik bisa diproduksi dalam waktu 3-5 tahun saja.Ketahanan bambu juga dapat dikatakan luar biasa karena dalam hal daya tarik bambu dapat disaingkan dengan baja. Dengan momen lentur yang tinggi yang dimilikinya, struktur dari bambu mampu menahan beban angin dan gempa dengan baik.Karena banyak keunggulan yang dimilikinya tak salah jika banyak bangunan yang mulai melirik bambu sebagai bahan baku utamanya. Salah satunya adalah Green School di Bali.

 Gedung sekolah yang didominasi oleh bambu

Terbentuk dari kesadaran akan pentingnya menanamkan kebiasaan “green” sejak dini, John Hardy seorang warga asing mendirikan sebuah sekolah yang mengajarkan kepada murid-muridnya untuk mengenal lebih dalam tentang kebijaksanaan dari alam. Sebuah visi yang begitu mulia dengan perwujudan arsitektur yang begitu luar biasa. Sebuah sekolah yang jarang ditemukan dimana kita bisa melihat murid-murid berlarian dengan bebas tanpa mengenakan sepatu di tanah yang becek, memberi makan hewan ternak dan menanam bibit-bibit tanaman baru.

Salah satu bangunan untuk belajar di Green School


Didirikan sejak tahun 2008, Green School yang terletak di daerah Mambal-Bali memiliki arsitektur yang terbilang “berani” untuk ukuran sekolah. Sesuai dengan visi dari sekolah yang ingin mengenalkan alam kepada anak-anak, bangunan dirancang menggunakan material-material lokal. Dimana 98% dari bangunan menggunakan bambu termasuk struktur utama bangunan, sisanya menggunakan lumpur untuk dinding dan lantai dan penggunaan grass block dengan tambahan batu kali sebagai penutup jalan menuju area dan sekitar sekolah yang langsung didapat dari sungai di belakang sekolah. Penggunaan material non-sustainable benar-benar di minimalisir sehingga sedikit sekali semen yang digunakan dengan alasan mengurangi emisi karbon yang dikeluarkan pada saat proses produksi.

 Struktur dari bambu pada bangunan Green School

Tak hanya itu, ruang kelas dirancang tanpa menggunakan dinding sehingga memudahkan jalan angin untuk masuk ke ruangan.Tujuan lainnya adalah agar para murid benar-benar merasakan sensasi belajar di ruang terbuka yang menyatu dengan alam. Sambil belajar mereka dapat mendengar suara hewan ternak, gemericik air di sungai dan mencium bau tanah sehabis hujan. Bukan hanya bangunan, keseluruhan lanscap dimanfaatkan secara optimal dimana para murid diajari untuk menanam buah dan sayuran, memanennya langsung dan memakannya sendiri maupun dijual ke pasar tradisional terdekat. Tanah liat yang mudah didapat di area sekolah juga dimanfaatkan oleh para murid untuk membuat kerajinan tangan.

 Ruang-ruang yang dibiarkan terbuka

Usaha penyatuan tidak hanya dilakukan dengan alam namun juga dengan masyarakat sekitar. Sebuah harmonisasi yang indah manakala para pengrajin dari Bali mengajari para murid mengenai material lokal Bali untuk menciptakan karya-karya hebat. Beberapa penduduk desa di sekitar sekolah juga mengajari bagaimana cara memasak dan beternak. Hubungan baik antara sekolah dengan komunitas sekitar makin nampak ketika sebuah jembatan besar yang menyebrangi sungai dibuat oleh pihak Green School yang bukan saja berfungsi sebagai infrastruktur sekolah tapi juga membantu warga ratusan warga sekitar untuk beraktivitas setiap harinya.

Benar-benar sebuah cara mengajar yang tak biasa namun patut diacungi jempol karena usaha mereka yang benar-benar ingin mengenalkan kebiasaan “green” sejak dini yang tak hanya melalui teori semata namun juga pada praktek pada kehidupan sehari-hari. Dengan sistem pendidikan seperti yang diajarkan oleh Green School, John Handy berrharap bahwa kebiasaan hidup green ini akan memberi dampak positif bagi lingkungan dan memberi dampak yang nyata bagi kehidupan sosial masyarakat.

Sebuah perubahan besar pasti dimulai dengan satu langkah kecil. Sederhana memang namun tak banyak yang sadar bahwa satu perbuatan kecil jauh lebih baik daripada seribu perkataan.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar