Pages

Masyarakat, Arsitektur dan Lingkungan (III) : Elemen Penunjang Arsitektur Untuk Adaptasi Lingkungan




“Apa gunanya memiliki rumah yang bagus jika tak ada bumi yang layak untuk tempat membangunnya”

Arsitektur sebagai bagian dari kehidupan masyarakat bukanlah monopoli kalangan kaum arsitek saja tapi harus pula disadari bahwa tiap lapisan masyarakat berhak untuk memiliki dan menikmati arsitektur yang layak bagi kehidupan mereka. Arsitektur sendiri sebagai sebuah wujud adaptasi manusia dengan lingkungannya sangat berpengaruh terhadap lingkungan. Dan tidak adil rasanya bila kita sebagai penikmatnya tidak mau berperan serta untuk mewujudkan arsitektur yang tidak hanya indah tapi juga ramah lingkungan.

Sejak tahun 90-an saat para ilmuwan menemukan tanda-tanda adanya kerusakan ozon yang dapat berakibat bagi kerusakan lingkungan, para arsitek di seluruh dunia berupaya memikirkan langkah-langkah agar dengan disiplin ilmu yang mereka miliki dapat berperan serta mencegah terjadinya kerusakan yang lebih parah. Karena harus disadari bahwa industri bangunan khususnya industri semen dan baja berkontribusi besar dengan menyumbangkan emisi CO2 yang sangat besar tiap tahunnya. Hingga setiap arsitek berusaha mewujudkan sebuah desain yang dapat mengadaptasi iklim dan budaya setempat serta tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitar.

Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat tiap tahunnya akan berbanding lurus dengan tumbuhnya kebutuhan akan rumah tinggal. Sayangnya hal ini tidak dibarengi dengan kepedulian masyarakat akan dampak yang ditimbulkan bagi lingkungan. Kepadatan rumah penduduk di kota-kota besar melahap sebagian besar lahan hijau sehingga turut mengurangi daerah resapan air. Jadi tak heran bila masalah-masalah seperti banjir, krisis air bersih dan polusi udara semakin menghambat kegiatan sehari-hari dan memperburuk kualitas hidup masyarakat. Dan sebagian besar masyarakat hanya bisa berkeluh kesah dan menyalahkan pemerintah. Dengan segala permasalahan yang melanda seharusnya kita semakin sadar bahwa sudah saatnya bagi kita untuk bersama-sama membuat perubahan.

Kepadatan rumah penduduk yg berakibat menipisnya daerah peresapan air


Banyak masyarakat yang belum tahu bahwa permasalahan seperti banjir, krisis air bersih dan polusi udara dapat ditanggulangi dengan banyak cara dan salah satu cara paling awal adalah dengan mewujudkan sebuah rumah tinggal yang ramah lingkungan. Dan untuk menciptakan rumah tinggal yang ramah lingkungan sendiri dapat diwujudkan dengan menambahkan berbagai elemen penunjang. Elemen-elemen ini selain dapat mengurangi dampak buruk bagi lingkungan juga mampu membuat si penghuni rumah merasakan beberapa keuntungan salah satunya mengurangi biaya pengeluaran tiap bulannya untuk konsumsi air dan listrik selain dapat membuat rumah menjadi lebih nyaman untuk dihuni.

Roof Garden (Taman Atap) dan Vertikal Garden
Pertama, salah satu solusi untuk mengatasi polusi udara dan memperbaiki kualitas udara adalah dengan membuat roof garden atau taman di atap rumah kita. Seperti kita tahu bahwa lahan hijau di Indonesia terutama di daerah perkotaan semakin menipis jumlahnya karena salah satunya digunakan untuk pemukiman. Hal ini tentu membuat jumlah tanaman yang berfungsi untuk menyerap gas karbon dan emisi pembuangan dari kendaraan dan pabrik semakin berkurang. Tak heran bila saat ini udara di perkotaan semakin panas layaknya berada di dalam oven dan kualitas udara terus memburuk. Bila hal ini terus dibiarkan berlanjut maka gas karbon tersebut tentu dapat semakin merusak lapisan ozon. Namun, dengan ketersediaan lahan yang semakin berkurang kita pun menjadi kesulitan untuk menanam pohon. Hal ini mampu kita akali dengan menanamnya di atap rumah kita. Roof garden sendiri pertama kali di terapkan di kepulauan faroe. Dan saat ini mulai banyak yang menerapkannya di Indonesia. 


 Indahnya taman di atas atap

Untuk membuat taman atap yang sederhana tak memerlukan bahan-bahan yang rumit. Taman ini pada dasarnya adalah lapisan tanah, pasir dan kerikil yang diletakkan diatas dak beton yang umum kita gunakan. Cara lainnya yang jauh lebih sederhana adalah dengan menaburkan atau melapisi dak beton dengan kerikil atau batu-batu kecil. Dan tanaman dapat diletakkan pada pot-pot tanaman. Tanaman gantung dan tanaman rambat juga bisa digunakan sebagai taman diatas atap. Namun yang perlu diperhatikan adalah konstruksi beton yang digunakan. Pastikan bahwa konstruksi dak beton benar-benar kuat untuk menahan beban. Dengan mengaplikasikan taman atap ini kita tak hanya membantu untuk mengurangi polusi udara saja namun juga dapat merasakan efeknya pada kehidupan sehari hari kita. Roof garden ini selain memberikan pemandangan yang menyejukkan pada atap rumah kita juga dapat membuat suhu ruangan di bawahnya menjadi lebih dingin. Sehingga pengeluaran kita untuk biaya listrik khususnya untuk AC dapat ditekan.

Komponen untuk membuat roof garden




Tak jauh berbeda dengan roof garden, vertikal garden pun bertujuan untuk mengatasi menipisnya ketersediaan lahan untuk menanam tumbuhan. Bedanya bila roof garden dibuat di atas dak beton pada atap rumah kita, vertikal garden dibuat secara vertikal pada bangunan atau fasade rumah kita. Tujuan utamanya adalah sebagai filter udara. Sehingga udara yang akan masuk ke dalam rumah kita akan disaring terlebih dahulu agar udara yang masuk adalah udara yang bersih dan bebas polusi. 

Vertical garden di salah satu gedung pencakar langit



Cara menanamnya adalah dengan menggantung pot-pot berisi tanaman pada rangka yang kita pasang pada fasade rumah kita. Rangka tersebut dapat terbuat dari pipa PVC bekas dan pot tanamannya dapat dibuat dari botol air mineral bekas. Sehingga selain turut menjaga lingkungan dengan mengurangi polusi udara kita juga dapat mengurangi sampah plastik yang susah dihancurkan oleh tanah. Di Indonesia sendiri penggunaan roof garden dan vertical garden muali marak dijumpai, sedangkan di luar negeri sudah banyak yang menggunakan elemen ini tak hanya untuk rumah tinggal, bahkan bangunan-bangunan pencakar langit dan komersil sudah banyak yang menerapkan hal ini.

Vertical garden di dalam rumah




Kolam Penampung Air Hujan
Perubahan iklim membuat siklus iklim di Indonesia semakin berubah. Siklus musim kemarau dan hujan tak lagi datang sesuai jadwal dan tak dapat diprediksi. Hal inilah yang membuat semua orang menjadi gelisah. Persoalan yang cukup pelik adalah saat musim penghujan datang intensitas hujan yang tinggi justru menimbulkan banjir dan kekurangan air bersih. Hal ini biasa terjadi di kota-kota besar. Daerah resapan air yang semakin berkurang dan sumber air tanah yang tercemar membuat masyarakat semakin sulit untuk mendapat air bersih. Dan di pelosok Indonesia yang intensitas hujan kecil seperti di Gunung Kidul dan NTT tentu kesulitan mendapat air bersih menjadi berlipat-lipat. Padahal banyak cara untuk mengakalinya. Salah satunya adalah dengan membuat kolam penampung air hujan.


Kolam penampung air hujan ini dapat dibuat di setiap rumah. Sistem kerjanya sederhana, pada saat hujan turun kolam ini menampung air hujan dan air hujan ini nantinya dapat dipergunakan untuk keperluan sehari-hari. Peralatan tambahan lain untuk membuat kolam penampung air hujan ini antara lain saluran pengumpul (collector chanel) yang berfungsi mengumpulkan air hujan dari atap rumah dan filter air untuk menyaring daun-daun atau kotoran lain agar air hujan yang nanti akan digunakan menjadi lebih bersih. Jumlah air hujan yang dapat dipanen dari atap rumah tergantung dari luasan efektif atap dan intensitas hujan tahunan dari daerah tersebut. Ukuran dari atap rumah dipengaruhi oleh ukuran suatu rumah itu sendiri. Namun dengan curah hujan yang tinggi di Indonesia sekitar 2000-4000 mm/tahun seharusnya kita tak perlu khawatir dengan ketersediaan air bersih. Bila tiap rumah memiliki tangki penampungan air hujan berkapasitas 10 meter kubik atau mampu mengalokasikan sekitar 5% saja dari total luas bangunan kita mampu memenuhi kebutuhan air bersih kita setiap harinya.


Contoh penampung air hujan di rumah warga


Pada perkembangannya saat ini banyak rumah yang tak hanya memiliki kolam penampungan untuk air hujan saja namun juga memiliki sebuah ide untuk mengolah air buangan hasil kegiatan sehari-hari seperti air bekas cucian (grey water) agar mampu diolah dan dipergunakan kembali untuk flushing toilet atau untuk menyiram tanaman. Dan air bekas dari feces maupun urine (black water) diolah agar mampu diserap oleh tanah lebih baik sehingga air yang bersumber di dalam tanah tidak tercemar. Pada akhirnya dapat diperoleh air tanah yang baik dan mampu dikonsumsi untuk kegiatan sehari hari. Bila semua elemen masyarakat mau mengaplikasikan hal ini tentu akan didapat hasil yang baik tidak saja untuk lingkungan namun juga untuk pribadi masing-masing.

Solar Panel
Indonesia dengan iklim tropisnya tak hanya diberi anugrah dengan intensitas hujan yang tinggi tapi juga dengan sinar matahari yang cukup terik sepanjang tahun. Perubahan iklim yang membuat lapisan ozon semakin menipis membuat sinar matahari semakin terasa panas menghantam bumi. Dengan suhu bumi yang terus meningkat dan cuaca panas yang membuat semua orang menjadi gelisah, keperluan akan AC untuk pendingin udara semakin tinggi dan hal ini berbading lurus dengan kenaikan biaya listrik tiap bulannya. Namun sengatan matahari ini sebenarnya bisa kita manfaatkan. Adalah solar panel sebuah alat yang berfungsi untuk mengkonversi panas matahari menjadi listrik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pemakaian solar panel di pemukiman

Kebutuhan akan daya listrik yang besar tidak dapat kita pungkiri. Namun seiring dengan terus naiknya TDL (Tarif Dasar Litrik) membuat kita mau tak mau mencari cara agar dapat menghemat pengeluaran untuk listrik. Hal inilah yang mampu dipenuhi oleh solar panel. Solar panel dapat dipasang di tiap rumah dengan peralatan dan harga yang cukup terjangkau. Komponen untuk pemasangannya pun tak terlalu sulit. Komponen tersebut antara lain Panel Surya/Solar Cells berfungsi untuk merubah tenaga matahari menjadi listrik. Controller, yang biasanya ter-integrated dengan Box Batere, merupakan perangkat elektronik berbentuk kotak yang mengatur aliran listrik dari Modul Surya ke Batere/Accu dan aliran listrik dari Batere/Accu ke perangkat elektrikal di rumah. Inverter, merupakan rangkaian elektro yang di gunakan untuk mengubah arus DC (Direct curent) menjadi arus AC (alternating curent). Alat ini dapat di gunakan pada berbagai macam jenis peralatan elektronika. Baterai, adalah perangkat kimia untuk menyimpan tenaga listrik dari tenaga surya. Tanpa baterai, energi surya hanya dapat digunakan pada saat ada sinar matahari.
Dengan panas matahari yang sangat menyengat akhir-akhir ini tentu hal ini memudahkan kita untuk mengurangi pengeluaran kita untuk biaya listrik bila kita mau mengaplikasikan solar panel ini di rumah kita. Tak hanya untuk keperluan rumah tangga saja. Sudah banyak hotel yang memakai perangkat solar panel ini. Tentu ini akan sangat membantu pihak hotel untuk menekan biaya pemakaian listrik hotel yang sangat besar.

Komponen dan sistem kerja solar panel

Banyak hal sebenarnya yang mampu kita perbuat untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Rumah sebagai tempat kita tinggal dan beraktivitas sehari-hari pun haruslah mampu mengadaptasi tak hanya nilai budaya dan sosial tapi juga mampu mengadaptasi iklim setempat agar rumah kita tak hanya baik untuk kita gunakan tapi juga baik untuk lingkungan dan masa depan bumi kita. Awali perubahan sejak dini. Dan perubahan besar selalu dimulai dengan perbuatan kecil. Semoga apa pun yang kita lakukan walaupun kecil demi kebaikan lingkungan kita mampu membawa efek positif untuk sekarang dan dimasa yang akan datang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar