Pages

Untuk Naufal dan Noura : Ketika Keinginan Orang Tua Berlawanan Dengan Anak






Masalah itu datang lagi. Sungguh aku tak tahu apa yang harus kuperbuat. Orang tuaku menyuruhku melanjutkan kuliah sedangkan aku benar-benar belum ingin melanjutkan kuliahku. Ada hal lain yang ingin kukejar, ada mimpi-mimpiku yang lain yang harus kuperjuangkan. Selain itu ada beberapa hal lain yang benar-benar membuatku tak bisa melanjutkan kuliah saat ini. Alasannya akan aku ceritakan nanti khusus untuk kalian berdua jika kalian sudah besar.

Aku sungguh-sungguh tak berdaya. Aku takut sekali mengecewakan kedua orang tuaku terutama ayahku, sementara di lain sisi aku tak sanggup menjalankan ini. Aku senang sekali belajar. Membaca dan menuntut ilmu adalah kebutuhanku tapi tak bisa kulakukan jika dalam keadaan terpaksa seperti sekarang. Sementara ayahku begitu bahagia dan bersemangat hanya dengan mengetahui aku bisa kuliah lagi. Bagaimana bisa aku memberitahu bahwa aku tidak ingin kuliah sementara setiap hari ayahku bertanya bagaimana kuliahku, jam berapa aku kuliah dan rentetan pertanyaan lain seputar kuliahku. Ia terus menerus bertanya kapan kira-kira aku bisa menyelesaikan kuliahku. Bagaimana bisa aku mengecewakan ayahku lagi?

Mengatakan keinginanku sama dengan mengubur impiannya. Sama dengan mematahkan semangatnya, sama dengan melenyapkan kebahagiaannya. Aku tak bisa menolak, aku tak punya kuasa karena aku ini anaknya. Apa yang harus kuperbuat? Ini bahkan lebih rumit saat aku memutuskan untuk masuk SMK dulu. Aku tahu jika aku katakan ayahku akan diam saja, ia hanya akan mengatakan terserah tapi aku tahu di lubuk hatinya ia akan sangat kecewa. Lalu bagaimana bisa aku menghadapinya? Bagaimana bisa aku menatapnya?

Dia tak pernah merasa bangga seperti saat aku di wisuda. Ia tak pernah terlihat begitu senang seperti saat aku kuliah arsitektur. Ia tak pernah membicarakan aku kepada saudara-saudaranya kecuali saat aku diterima kerja di bidang interior. Ia tak pernah mengurusi foto-fotoku selain foto wisudaku dan menyuruhku memajangnya dengan frame yang besar. Ia tak pernah terlihat begitu peduli dengan segala prestasi yang kuraih selain saat aku menerima penghargaan dari universitasku. Ia menyuruhku memajang seluruh hasil karyaku selama aku berkuliah di arsitektur. Ia bangga, begitu bangga. Dan aku sangsi ia akan sebangga ini saat tahu aku memiliki impian lain. Apa yang harus kulakukan? Berkorban demi ayahku atau berbalik mengejar mimpi-mimpiku? Selalu ada yang tersakiti di balik setiap keputusan. Hanya ada dua pilihan, mengorbankan mimpi-mimpiku atau mengubur mimpi ayahku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar