Pages

Untuk Naufal dan Noura : Mengajar Sambil Belajar Bersabar





Kini hampir tiap hari aku mengajar. Murid-muridku pun datang dari usia, pendidikan dan status sosial yang berbeda. Aku pernah mengajar murid SD, SMP, SMA, SMK, mahasiswa, ibu rumah tangga, wanita karir, bapak-bapak, dokter spesialis, tukang bangunan hingga kakek-kakek. Masing-masing murid memiliki tingkat kecerdasan dan daya serap akan materi yang berbeda-beda. Ada yang pintar sekali sehingga aku hanya perlu mengatakan sekali dan dia langsung mengerti. Biasanya orang-orang seperti ini memiliki usia yang relatif muda. Murid-muridku yang masih duduk di bangku SD, SMP dan SMA biasanya cepat sekali menangkap materi yang kuberikan. Karenanya aku senang sekali bila mendapat murid seperti ini. Aku tak perlu bersusah payah mengajarkan dan materi yang kusampaikan pun porsinya bisa lebih banyak mereka terima.

Sebaliknya, semakin tua usia seseorang makin susahlah ia berkonsentrasi dan hal ini tentu berpengaruh pada daya serap materi yang mereka terima. Bila aku mendapat murid yang berusia lanjut seperti ibu rumah tangga, bapak-bapak bahkan kakek-kakek aku harus ekstra bersabar untuk menyampaikan materi. Perlu beberapa kali aku mengulang apa yang kuucapkan karena mereka sering lupa dengan apa yang kukatakan meskipun baru saja hal tersebut disampaikan. Tak hanya ibu-ibu rumah tangga, bapak-bapak atau kakek-kakek saja yang kadang sulit untuk menyerap materi. Muridku yang masih berstatus mahasiswa kadang juga sulit untuk ditangani, padahal usia mereka tak jauh berbeda denganku. Meskipun tak semua muridku yang berstatus mahasiswa seperti itu.

Aku beberapa kali pernah mendapat murid-murid mahasiswa yang sangat pintar. Mereka dengan cepat menyerap apa yang kusampaikan. Kadang sampai pintarnya dan materi yang kuajarkan sudah melewati dari biasanya, aku suka bingung dan bertanya pada diri sendiri apa lagi ya yang hendak kuajarkan. Muridku yang paling pintar hingga saat ini adalah seorang mahasiswa teknik sipil bernama Ghali. Ya, di lain artikel aku akan membahas khusus mengenai dirinya. Karena hingga saat ini dialah muridku yang paling membuatku terkesan. Bukan saja karena ia pintar tapi juga karena kisah hidupnya yang bisa memberi pelajaran pada banyak orang.

Tapi tak semua murid berusia senja susah menyerap pelajaran. Muridku yang berusia empat puluhan masih sanggup mengikuti materi yang kusampaikan. Ia begitu cepat menyerap pelajaran meskipun materi tersebut termasuk sulit untuk dimengerti. Muridku yang berusia senja namun pintar itu berprofesi sebagai dokter spesialis. Yaiyalah dia pinter, namanya juga dokter. Kalo ga’ pinter ga’ mungkin jadi dokter apalagi dokter spesialis. Ahahahaha....

Mendapat murid-murid dengan daya konsentrasi yang rendah menjadi tantangan tersendiri bagiku. Awalnya aku sering sekali terpancing emosi bila mereka tak kunjung mengerti dengan apa yang kusampaikan. Hingga akhirnya kerap kali aku berbicara dengan nada tinggi bahkan membentak kepada mereka. Hal ini terjadi di awal-awal aku mulai mengajar. Aku yang memang belum berpengalaman dan belum siap mendapati hal-hal seperti itu sering bingung bagaimana harusnya aku memperlakukan mereka. Rasanya seluruh emosi terserap habis. Padahal aku hanya mengajar selama satu setengah jam saja. Aku benar-benar jengkel karena harus mengulang-ngulang terus materi yang kusampaikan. Padahal mereka hanya tinggal mengikuti instruksi yang telah kutulis di papan tulis, tapi itu pun sulit untuk mereka lakukan.

Tapi lama kelamaan aku mulai mendapati sesuatu. Justru jika kita membentak dan berbicara dengan nada tinggi kepada mereka, mereka akan semakin kehilangan konsentrasi. Mereka akan bertambah bingung dan akhirnya mereka makin tidak bisa mengikuti instruksi dengan baik. Karena mendapati hal seperti ini aku pun berusaha mengubah gaya mengajarku. Aku mulai untuk belajar bersabar. Jika mereka terlihat sulit melakukan instruksi dariku aku akan memberikan mereka waktu untuk mencobanya. Saat itu aku hanya akan diam dan melihat saja. Karena aku pun baru menyadari setiap orang perlu waktu untuk menemukan cara belajar yang terbaik bagi mereka. Setiap orang perlu menemukan solusi terbaik bagi diri mereka sendiri untuk menyelesaikan masalah. Dan tentunya setiap individu punya cara masing-masing. Aku sebagai guru tak bisa menyamaratakan semua muridku. Dan saat itu juga aku sadar, tugasku sebagai guru hanyalah membantu serta memotivasi mereka. Sedangkan penyelesaiannya kembali ke diri mereka sendiri.

Kini sedikit demi sedikit aku mulai bisa mengontrol emosiku. Aku mulai bisa bersabar meskipun kadang-kadang masih suka membentak. Bahkan kini aku mulai mendapat kepuasan tersendiri bila murid yang tadinya susah menyerap pelajaran lama kelamaan bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Saat itulah aku merasa peranku sebagai guru berhasil. Bukan saja karena berhasil membuat mereka mengerti dan mengikuti pelajaran dengan baik tapi juga berhasil mengatur diriku sendiri terutama emosiku. Salah satu muridku yang membuatku senang adalah seorang mahasiswa asal Timor Leste bernama Ella yang melanjutkan kuliahnya di Bali. Awalnya sangat susah mengajarinya, ia begitu sulit berkonsentrasi dan aku harus terus menerus mengulang yang kukatakan. Aku bahkan harus memberi tahu apa yang dimaksud jari-jari lingkaran dan mana diameter lingkaran. Karena percaya atau tidak, ia yang sudah mahasiswa tidak tahu apa itu jari-jari dan diameter lingkaran. Awalnya aku sempat merasa putus asa mengajarinya, namun aku mencoba terus bersabar. Akhirnya dengan kesabaran yang luar biasa, lama kelamaan ia mulai bisa memahami dan mengikuti materi dengan baik. Ia mulai terlihat lancar dan saat itu aku benar-benar merasa puas.

Untuk Naufal dan Noura, bila suatu saat kalian mengikuti jejakku sebagai seorang guru, aku harap kalian pun bisa menjadi guru yang baik. Guru yang tidak sekedar mengajar tapi juga mampu membimbing, memotivasi dan meningkatkan minat belajar murid yang kalian ajar. Tapi terlepas dari segala kesulitan yang kudapat, satu hal yang kupelajari dari mereka adalah bagaimana mereka memiliki keinginan belajar yang sangat tinggi. Terutama murid-muridku yang berusia senja bahkan kakek-kakek. Mereka belajar bukan untuk mendapat gelar atau untuk memudahkan pekerjaan mereka sehingga mereka bisa mendapat uang. Mereka belajar untuk melatih otak dan daya ingat mereka agar terus bekerja. Mereka tak ingin agar mereka tua dalam keadaan menjadi pikun. Karenanya mereka berusaha untuk terus belajar. Dan aku berharap kalian berdua pun bisa memiliki semangat belajar yang tinggi seperti mereka.

Belajarlah hingga usia senja. Bahkan jangan pernah berhenti belajar. Jangan lewati satu hari pun tanpa mendapat satu hal yang bermanfaat dalam hidup ini. Dan satu hal yang harus diingat, apa pun yang kalian alami semua itu adalah proses belajar. Semua hal yang terjadi memiliki makna di baliknya. Terus bersyukur dan cobalah mengerti mengapa suatu hal bisa terjadi pada diri kalian. Karena tiadalah suatu hal pun terjadi melainkan ada alasan yang menyertainya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar